Sekali Sebulan

Sekali sebulan aku akan mematikan satu-satunya penerang
Dan memohon pada Tuhan untuk membiarkanku menghilang
Merapatkan celah antara dinding dengan tirai jendela
Sebelum mengukir salam perpisahan di permukaan keramik dengan
pecahan meteor berlumuran murka Surga

Sekali sebulan aku akan menjadi pendosa
Menangis merengek meminta nyawaku ditarik ke kehampaan
Tolong jangan jatuhkan aku ke Neraka, pintaku pada para Penjaga
Tapi jangan biarkan juga aku mengambang pada ketidakbertujun
kerajaan fana

Aku pernah punya mimpi, aku rasa
Satu yang tidak dinodai garis-garis putus asa
Satu yang indah dibingkai dan dipamerkan di tiap ujung lidah bicara
Satu yang kurangkai dengan pigura emas,
kulindungi dari badai debu berlalu-lalang

Mimpi itu masih berdenyut, aku menduga
Terselip di dalam laci kayu yang digerogoti miniatur tukang
Terlipat dalam bentuk segitiga kertas dengan berat
yang tidak membebani Semesta
Terlupakan bersama lelah yang menuakan
tulang dan mengaburkan semangat

Karena itu, sekali sebulan aku mengangkat tangan
Bertanya pada Tuhan apa yang tengah disimpan masa depan
Apakah indah? Apakah megah?
Apakah cukup untuk membuat sakitnya menyerah?

Maka sekali sebulan Tuhan berkata sedikit lebih keras dari biasanya
Bahwa aku layak hidup, harus hidup, dan memang direncanakan untuk hidup
Dengan atau tanpa air mata
Tuhan telah menyediakan ruang berselimut harapan

Sragen, 24 Desember 2025

Komentar

Adsterra

Postingan Populer