Kota yang Tak Bersayap

 


街を今 傘もささずに 宛てもなくて。
—Aimer, Stars in the rain

Gion adalah tempatnya melarikan diri. Barisan atap kayunya adalah pelindung dari realita. Jalanannya yang berbatu alih-alih beraspal adalah jembatan menuju dunia yang sebelumnya tidak ia kenal. Beragam turis yang berkeliaran dengan kamera tergantung di leher untuknya adalah tembok pembatas melawan problema.

Dulu saat masih tinggal di Tokyo, dia punya lebih dari satu tempat untuk melarikan diri. Tenggelam di Shibuya atau Akihabara adalah hal yang mudah. Dia bisa menghabiskan seharian di sana, hanya berjalan mengikuti lalu lalang penduduk, melebur bersama kesibukan yang tidak ia miliki. Matanya akan berkedip, mengerling, melirik—tak pernah letih untuk menemukan sesuatu yang istimewa.

Namun di Kyoto, waktu bergerak begitu lambat. Kyoto seakan mengikuti aliran zamannya sendiri, bergerak dan berubah sesuai tempo yang tidak dimiliki oleh kota lain. Takayuki berusaha menyamai dinamika yang asing itu, tapi setelah enam belas hari, ia merasa tertolak. Gagal. Langit Kyoto adalah sama dengan langit yang ia lihat di Tokyo, seharusnya, tapi proporsi warna birunya juga alokasi penyebaran awannya—tidak ada familiaritas yang tersimpan di dalamnya.

Sebaliknya, di Gion, waktu justru benar-benar berhenti dan tidak pernah mencair. Tidak pernah bergerak lagi. Tidak ada perubahan yang terjadi. Maka kesanalah Takayuki, yang telah lelah mencoba beradaptasi, mencari perisai dan perlahan membiarkan rotasi Kyoto yang lambat melepaskan cengkeramannya. Gion menjadi pemilik kebebasan yang asing.

Di Gion pula, ia menemukan sebuah enigma. Baginya, paling tidak. Ketika matahari mulai bergerak turun sebagai penanda datangnya senja, lampu-lampu lampion di sepanjang jalan akan dinyalakan. Warna mayoritasnya adalah putih, tapi sejumlah yang memancarkan cahaya jingga juga ikut melebur bersama nuansa matahari terbenam. Pada momen itulah, Gion benar-benar terbangun dan aktivitas yang terlihat nyaris magis mulai nampak. Saat itulah sejumlah okiya[1] membuka pintunya, dan Takayuki bisa menyaksikan daya tarik Kyoto yang telah tersohor namanya: geisha[2].

Ia biasanya menunggu di Hanamikoji-dori, ruas jalan di mana beragam ochaya[3] dan restoran eksklusif berdiri—area di mana para geisha paling sering menampakkan diri. Takayuki akan berdiri di seberang salah satu ochaya yang kelihatan paling sibuk, hanya bersedekap, mengawasi satu demi satu geisha melintas dan menghilang ke balik pintu kayunya. Takayuki selalu mengamati tapi sulit untuk mengenali satu persatu ketika masing-masing wajah terlihat serupa, sama-sama dicat dengan sentuhan putih. Langkah mereka juga begitu cepat, selalu tergesa-gesa untuk mencapai tempat pertemuan.

Namun suatu hari, tanpa diduga, alih-alih berlalu dan masuk ke salah satu ochaya, seorang geisha justru berhenti di depannya. Masih seorang maiko[4], jika dilihat dari kimono[5]-nya yang bernuansa cerah dan gelungan rambut yang menyimpan banyak kanzashi[6] sebagai dekorasi.

“Aku sering melihatmu di sini,” maiko itu berkata. Suaranya lembut, ketenangannya terlatih. “Tidak pulang ke rumah?”

Orangtua Takayuki membeli sebuah apartemen di Higashiyama, distrik paling mahal di Kyoto meski masih sedikit lebih murah daripada jika harus menyewa kamar di pusat kota Tokyo. Mereka berdua selalu pulang larut malam. Tidak ada di antara mereka yang tahu bahwa Takayuki sering melakukan hal yang sama.

“Nanti,” jawab Takayuki, berusaha untuk terdengar kasual meski suaranya tercekik oleh keterkejutan. Jarang ada geisha yang bersedia membuang waktu mereka yang berharga untuk bercakap dengan seorang pejalan kaki yang tidak membayar.

Matahari benar-benar sudah tenggelam kini. Bahu kiri Takayuki bersandar pada tiang lampu merah yang menjadi ciri khas Hanamikoji-dori. Matanya mengawasi langit, yang tidak berawan, yang tidak meninggalkan berkas warna birunya. Hanya jingga pekat yang menjemput gelap. Hanya langit Kyoto di malam hari, yang sama seperti Tokyo, tidak berbintang.

Pandangan mata sang maiko masih terpaku padanya.

“Kau terlihat seperti seseorang yang tidak tahu di mana kau berada atau di mana kau seharusnya berada.”

Takayuki membungkam selama beberapa detik, merasa tersindir, sebelum akhirnya menyahut, “Aku… masih mencari.” Ia mengangkat kepala. “Hal yang wajar bukan? Remaja berusia tujuh belas tahun umumnya belum tahu ke mana mereka akan berlayar.”

“Tidak semua,” bantah sang maiko. “Aku menentukan pilihanku saat berusia lima belas tahun, dan aku sudah tahu di mana aku ingin berada saat usiaku menginjak dua puluh tahun nanti.”

Kata-kata itu—diucapkan dengan kebanggaan dan ketidaksukaan yang jelas terhadap masa muda yang tersia-sia—menghantamnya. Takayuki pernah mendengar bahwa seorang maiko menjalani pelatihan selama lima tahun sebelum diangkat sebagai geiko, umumnya dimulai sejak mereka lulus dari SMP. Itu pilihan yang besar. Mereka begitu muda saat memutuskan untuk menyerahkan hidup mereka untuk sebuah tradisi.

“Mengapa geisha?” tanya Takayuki. Ia mengira akan mendengar jawaban yang lazim, yang sederhana. Sesuatu yang mirip dengan kesukaan pada seni, keinginan untuk menjadi bagian dari dunia magis seorang geisha, tapi sang maiko justru menjawab:

“Kepengecutan,” katanya. “Aku melarikan diri dari suatu masalah dan justru terjun ke masalah yang lain. Kemudian aku memutuskan untuk menjadi berani.” Ia tersenyum pada Takayuki, kerlip matanya menantang. “Jadi aku tinggal. Aku bertahan. Aku meninggalkan orangtuaku di Tokyo dan tidak pernah ingin untuk kembali lagi.”

Takayuki terbelalak. “Kau kabur? Dari Tokyo?”

“Dua hari setelah ulang tahunku yang kelima belas.”

Lima belas. Dua tahun yang lalu Takayuki juga berusia lima belas tahun. Ia belum membutuhkan tempat pelarian saat itu. Kehidupannya sederhana, masa depan terasa begitu jauh dan abstrak, tapi ia sama sekali tidak merasa khawatir. Dan mungkin karena ia tidak pernah memerhatikan ke mana ia berjalan, tanpa sadar ia telah kehilangan arah begitu mudahnya.

“Bagaimana rasanya—memilih hidupmu sendiri?”

Tawa sang maiko berdenting, pecah seperti hamburan bunga sakura ketika musim panas menggugurkan kelopaknya. “Penuh kuasa,” jawabnya, terdengar luar biasa bangga. “Akulah yang memegang kendali. Akulah yang menentukan untuk terus berlanjut atau menyerah hanya sampai di sini. Tidak ada orang lain yang bisa mencegahku menentukan jalan mana yang ingin kuambil.” Kemudian pandangannya melembut, dan Takayuki bisa melihat kedewasaan dalam matanya kini. “Seperti itulah impian, jika kau benar-benar menginginkannya.”

Perasaan iri pun timbul, luber seperti magma dari lubang volkano. Membakar perut Takayuki, asapnya menyesakkan dada. Ia berusaha untuk menenangkan diri, menghapus senyum getir.

“Sulitkah untuk mempunyai sebuah mimpi?”

Pertanyaan itu membuat sang maiko termenung sejenak. “Kurasa lebih sulit lagi untuk tidak memiliki sebuah mimpi. Tidak ada yang mendorongmu untuk terus maju, tidak ada yang memberitahumu arah ketika engkau tersesat, tidak ada yang mengingatkanmu akan kesempatan berikutnya saat kau gagal.”

Takayuki mengingat Tokyo, hiruk-pikuknya yang menenggelamkan segala penat dalam benaknya, dan bagaimana ia melarikan diri ke dalamnya. Keramaian itu membuatnya mengurai kerumitan, mengosongkan pikiran, tapi tidak menolongnya untuk menemukan jalan. Tokyo dan Gion adalah pelarian. Tidak pernah lebih dari itu.

“Bagaimana kau memulai mimpimu?”

Maka dimulailah sebuah kisah. Sang maiko pun menyenandungkan ceritanya, tentang sebuah salon modern milik keluarga di Tokyo, tentang bagaimana orangtuanya begitu berambisi untuk membuat usaha itu besar, memintanya untuk menjadi seorang penerus, dan memaksanya untuk mempelajari semua hal yang diperlukan untuk itu.

“Saat itu, umurku baru tiga belas tahun. Aku tidak suka menata rambut, tapi ibuku memaksaku untuk belajar.” Ia menyentuh gelungan rambutnya sendiri, agak meringis. “Ada banyak model yang harus dipelajari. Gaya rambut geisha umumnya jauh lebih sederhana. Kurasa karena itu aku menyukainya. Tapi aku tidak suka bekerja di salon modern. Ini mungkin terdengar kekanak-kanakkan, tapi aku benar-benar tidak tahan. Saat usiaku lima belas tahun, adikku lahir. Perempuan. Kemudian aku lari.”

Deretan lampu sepanjang Hanamikoji-dori seolah meredup. Kimono sang maiko, cerah seperti letupan kembang api merah, dibayang-bayangi oleh hilangnya pencahayaan.

“Aku tidak mengenal siapapun di Gion dan terlalu muda untuk memperoleh pekerjaan. Aku tidak punya tempat tinggal, jadi dalam kebingungan, aku mengetuk salah satu pintu okiya. Okaa-sama[7] memberiku tempat tinggal dan pelatihan, maka aku menjadi seorang geisha.” Mata sang maiko adalah kegelapan laut yang dalam, gejolaknya tidak nampak pada permukaan. “Aku juga tidak ingin kembali ke rumah. Meski kadang-kadang menjadi seorang geisha juga melelahkan. Kadang-kadang aku merasa tengah berpura-pura. Tapi Onee-sama[8] berkata bahwa menjadi geisha bukanlah tentang menyembunyikan pribadimu yang asli, tapi untuk menemukan jati dirimu yang baru.”

Untuk melepaskan sebuah kehidupan dan menggantikannya dengan sebuah pilihan. Untuk mengakhiri sebuah kisah dan membuka halaman yang baru. Keberanian. Ketika kata terakhir terlontar dan hening kembali menghampiri, Gion telah diserbu nuansa malam. Sebuah mobil terparkir di depan salah satu restoran, yang paling dekat dengan mereka berdua, dan empat orang berjas hitam dan sepatu pantofel licin tersemir, memijakkan kaki pada jalanan berbatu Gion, langsung merangsek masuk ke dalam restoran diiringi gelak tawa membahana.

Sang maiko mengawasi kedatangan mereka, menyunggingkan separuh senyum.

“Itu klien adikku,” ujarnya menjelaskan. “Orang-orang penting. Ada tiga geiko dan satu maiko untuk menemani makan malam mereka. Okaa-sama ingin segalanya sempurna.” Ia menghela napas. “Segalanya harus sempurna dalam dunia kami. Kami diharapkan untuk menjadi epitome kesempurnaan.”

“Kau tidak ke sana?”

Ia menggeleng. “Aku hanya mengantar. Tidak ada pekerjaan untukku malam ini.”

Takayuki meliriknya. “Tapi kau berdandan.”

Sang maiko menggumamkan persetujuan. “Tapi aku berdandan.”

“Kau seharusnya tidak berdandan.” Takayuki berkata, menunduk untuk melihat sepatu yang ia kenakan berhadapan dengan geta[9] tinggi yang maiko itu kenakan. Kemudian ia mendesah, “Aku belum menemukan mimpiku.”

“Maka buat. Ciptakan. Jangan mencari. Mimpi bukanlah pencarian. Mimpi adalah sebuah usaha untuk mewujudkan.”

“Bagaimana caranya?”

“Mulailah dengan menentukan apa yang tidak ingin kau lakukan.”

Takayuki tidak ingin tinggal di Kyoto. Ia tidak ingin terjebak di Gion. Yang dia inginkan adalah kembali ke Tokyo, merangsek lebih jauh lagi ke masa depan. Mengambil langkah maju untuk sekali lagi mengubah zaman.

Itu mimpi yang besar.

“Apa aku boleh tahu siapa namamu?” Takayuki bertanya.

Sang maiko, muda tapi juga dewasa, mengangguk. “Okiya tempatku berguru adalah kebun bunga,” katanya, “karena itu Okaa-sama memanggilku Ume.”

Bukan sakura, tapi serupa. Mekar di akhir musim dingin, sebelum musim semi menyapa. Perlambang kepercayaan, elegan, dan hati yang tulus.

Saat percakapan mereka berakhir, Gion tak lagi temaram. Takayuki memandang punggung gadis remaja berkimono merah itu menjauh usai salam perpisahan, bertanya-tanya apakah saat mimpinya sendiri terwujud nanti, mereka masih bisa saling menemukan—di sini.

Gion adalah tempatnya melarikan diri, sebuah distrik yang tidak pernah tersentuh waktu, membeku bersama zaman, tapi di sanalah Takayuki belajar caranya memulai sebuah perubahan.

(Ditulis di Semarang, 27 November 2016)

Glosarium:

[1] Rumah di mana geisha umumnya tinggal sepanjang kariernya.

[2] Hostess tradisional Jepang yang dilatih untuk menghibur tamu dengan cara menari, menyanyi, dan seni bercakap.

[3] Kedai teh atau restoran tempat geisha biasanya bekerja.

[4] Geisha Kyoto yang masih dalam masa pelatihan.

[5] Pakaian tradisional Jepang.

[6] Hiasan rambut. Umumnya maiko mengenakan lebih banyak hiasan rambut dari geiko (geisha Kyoto yang telah menyelesaikan pelatihannya).

[7] Pemilik okiya. Orang yang melatih para calon geisha. Secara bahasa berarti “ibu”.

[8] Panggilan geisha yang lebih muda dan junior kepada geisha yang lebih tua dan senior. Secara bahasa berarti “kakak perempuan”.

[9] Sandal tradisional Jepang yang terbuat dari kayu.

Komentar

Adsterra

Postingan Populer