The Prisoner of Beauty (2025)
Jika kau tahu suamimu menginginkan kepalamu dipenggal dan darah keluargamu membanjiri tanah, bisakah kau tidur di sampingnya tanpa rasa takut?
Lucunya, entah bagaimana, Xiao Qiao bisa. Angin musim gugur menyusup dari celah pintu dan jendela. Terang belasan lilin menghiasi malam, mengiringi napas teratur Wei Shao yang berbaring terlelap di atas dipan di dekat pintu samping kamar mereka.
Di atas kuda, ia nampak gagah. Seolah puluhan siklus matahari telah ia lewati dan ratusan pergantian musim telah ia alami. Namun saat Xiao Qiao melihat lebih dekat, mengamati sedikit lebih lama, ia menyadarinya.
Masa muda. Sedikit sifat kekanak-kanakan dari laki-laki yang enggan mengaku salah. Kekeraskepalaan yang hadir karena belum banyaknya pengalaman. Hati yang mudah bersimpati, tapi diperisai rasa takut terluka. Hati yang ingin memaafkan, tapi dibelenggu rasa bersalah.
Di sanalah Xiao Qiao kemudian memahaminya—mereka sebaya.
Satu generasi. Dua remaja yang harusnya tumbuh dengan masa kecil yang serupa, andai saja keluarga Xiao tidak berkhianat dan membuat Wei Shao kehilangan kakek, ayah, dan kakak laki-lakinya di malam yang sama, empat belas tahun lalu.
Sudah empat belas tahun, tapi Xiao Qiao bisa melihat bahwa api dendam itu masih menyala. Terhadapnya, yang dikirim ke keluarga Wei untuk memadamkan kemarahan dan memohon pengampunan. Terhadapnya, yang ingin membangun kembali pondasi kedamaian yang keluarganya telah runtuhkan. Terhadapnya, yang kini merasa hampir putus asa.
Perlakuan Wei Shao padanya dingin dan berjarak, dipenuhi kecurigaan dan kebencian. Jika dinginnya leleh, apinya-lah yang kembali berkobar—garang dan tanpa ampun. Hal yang wajar. Xiao Qiao tidak berani berharap lebih. Tidak dibunuh saat mereka pertama kali bertemu saja sudah lebih dari cukup. Tidak diusir setelah upacara pernikahan yang penuh penghinaan itu saja sudah pantas untuk menuai syukur.
Xiao Qiao tidak mungkin mengharapkan cinta, tapi paling tidak, ia bisa berjuang untuk sedikit rasa hormat. Lebih diakui. Lebih dilihat sebagai manusia. Sebagai rekan. Sebagai teman. Tidak terus-menerus dipelototi seolah-olah di balik gaunnya ada pisau tersembunyi dan di bawah kukunya bersemayam polesan racun atau rangkaian duri yang haus darah. Betapa melelahkannya terus-menerus bersikap kuat dan tak gentar, ketika satu-satunya yang ia inginkan adalah menangis di lantai dan tidak perlu bangkit lagi.
Tapi Xiao Qiao punya mimpi, punya misi. Punya keluarga yang ia sayangi dan penduduk yang ingin ia lindungi. Punya rencana yang harus membuahkan hasil dan tujuan yang ingin ia penuhi.
Karena menikah dengan Wei Shao bukan hanya tentang berdamainya dua keluarga, apalagi tentang sekadar uji coba untuk mendapatkan cinta. Menikah dengan Wei Shao adalah tentang perang yang telah berkepanjangan dan cara untuk mengakhirinya—jika bisa, bersama-sama. Bukan hanya tentang Wei dan Yanzhou, sebuah aliansi yang patah dan saling menodongkan pedang, tapi juga tentang teritori-teritori lain, penguasa-penguasa lain yang mengawasi mereka berdua—bersiap untuk mencaplok jika salah satu dari mereka menunjukkan retak sedikit saja. Keserakahan dan kesombongan—ketidakpedulian akan nasib ribuan penduduk tidak bersalah di bawah beratnya kekejaman perang.
Maka dari itu, Xiao Qiao tidak boleh berhenti mencoba. Karena ia juga tahu, di sisi yang berseberangan, Wei Shao juga sedang berusaha. Jika hari ini suaminya hanya bisa setengah langkah berjalan, Xiao Qiao akan mengambil dua langkah ke arah yang sama sebagai kompensasi. Begitu bergantian. Sehari demi sehari. Satu langkah demi satu langkah. Musim demi musim.
Bukankah begitulah pernikahan seharusnya berjalan? Saling membantu, tak peduli seberapa marah dirimu. Saling melindungi, tak peduli seberapa sakitnya dirimu. Saling mendukung, terutama ketika ada begitu banyak alasan yang bisa meruntuhkan kepercayaanmu. Dan jika cinta bisa tumbuh di antaranya, maka puji dewa. Andai pun tidak, masih ada rasa hormat yang bisa Xiao Qiao perjuangkan.
Ia tidak akan menyerah begitu saja.
(Ditulis di Sragen, 15 November 2025—sebuah fanfiksi tentang The Prisoner of Beauty [2025]).


Komentar