hopeless = loneliness
Kata-kata yang
kutulis di atas kertas belum tentu kejujuran, tapi bukanlah sepenuhnya
kebohongan. Aku tidak tahu emosi apa yang sedang mengalir dari getaran tanganku
menuju tinta hitam yang menggores kekosongan. Apatisme, mungkin. Atau
keputusasaan. Harapan semu dari seseorang yang telah membunuh hatinya namun
ingin mengecap indahnya perasaan lagi. Kau tahu aku egois. Kau tahu aku kejam.
Tapi aku juga adalah bentuk lain dari kerapuhan; kristal tajam yang melindungi
sebuah kehampaan.
Aku bahkan tidak
tahu siapa engkau, meski aku berharap aku akan segera mengorek lebih banyak
darimu. Aku ingin tahu siapa engkau, meski kau tidak ingin diketahui oleh
siapapun. Apakah aku sedang berbicara dengan dirimu sekarang? Ataukah kau
tengah membisu mendengarkanku bermonolog dengan sesuatu yang tak pernah ada?
Kasihanilah aku. Dunia ini ramai, tapi aku berpura-pura tuli dan berpura-pura
dalam sunyi dan berkata aku hanya sendirian.
Aku menginginkan
engkau—siapapun engkau—orang macam apapun kau. Bahkan jika kau bukanlah
manusia, tak mengapa.
(Semarang, 10 Februari 2016)

